Mocking

Mocking.

Mock.

Atau meledek…

Jaman sekarang ngeledek orang itu udah kayak ucapan biasa. Panggilan biasa dari satu individu ke individu lain. Orang dengan ringannya menggerakkan lidahnya dan melantunkan bahasa-bahasa kotor untuk meng address kan seseorang.

“Apaan sih anjing” “lu tolol” “engga bego” bahkan mereka dengan ringanĀ  mengucapkan alat kelamin mereka dengan suara besar dan lantang. Mereka mengucapkan hal itu dengan tawaan, menganggap itu hanya candaan belaka.
Hal seperti itu akan terdengar ditelinga setiap hari. Diucapkan oleh laki-laki, maupun perempuan. Setiap hari.

Tak cukup akan ledekan itu, mereka mulai meledek nama orang tua mereka.

Orang. Tua.

Pertama kali denger, jujur. Dikira ‘Fulan’ adalah teman sebaya, karena temen dan bahkan anaknya sendiri dengan enteng mengatakan ‘si Fulan bego anjing’.

Terhenyak.

Anaknya sendiri. Menceritakan orang tuanya dengan kata ‘Si’ layaknya teman sebaya, dan mereka meledek orang tuanya sendiri dengan ledekan ledekan kasar itu.

Ledekan yang sangat tidak pantas untuk seorang anak memanggil orang tuanya yang sudah bersusah payah membesarkannya dan mengurusnya dari kecil hingga sebesar sekarang. They should’ve grateful and thanking for their parents as long as they live, but they’re mocking them with those hurtful words.

Yang gua bingung, kenapa mereka dengan mudah mengucapkan kata-kata seperti itu. Tanpa merasa bersalah. Seperti tanpa dosa.

Mereka mungkin belum merasakan bagaimana sakit dan sedihnya saat orang tua mereka jatuh sakit, mereka belum merasakan bagaimana sedihnya dan kosongnya hidup ini ketika melihat orang tua kita terbaring lemah di atas kasur di rumahnya/di rumah sakit. Mereka mungkin belum merasakan bagaimana orang tuanya di vonis penyakit ganas dan berbahaya. Mungkin mereka belum merasakan bagaimana sedihnya orang tua meninggalkan kita dan dunia ini.

Bogor, 12 Agustus 2015