Awkward

Tak pernah menjalani suatu hubungan ‘serius’ dengan orang lain membuat kita -orang yang gak pernah pacaran- suka bingung dan malah jadi awkward ketika temen-temen yang udah pacaran ngomongin pacarnya, orang yang dia suka, gebetan, atau apapun itu. Yang jelas ketika mereka ngomongin si dia. Dan hal itu sering terjadi ke gua pribadi. Karena lingkungan gua emang semuanya sedang dalam masa dimabuk cinta akan kekasih, entah yang ada di atas -anak IPA- ataupun yang di luar sekolah.

Duduk dengan seorang anak gaul dan di kelilingi oleh orang-orang semacamnya sama sekali gak ngebantu. Sering pas lagi duduk sambil main hp, tiba-tiba gatau temen gatau gebetannya teman sebangku gua ini ini datang. Dia pun dengan seenaknya merebah tubuhnya di meja kayu itu. Menyamakan level matanya dengan teman sebangku.

Ucapan yang keluar dari mulut dia selalu terkesan cheesy dan menggelikan. Karena doi selalu ngomong dengan suara yang entah beneran macho apa sok macho. In a low, gentle, and soothing voice -padahal kenyataannya suaranya biasa-

Yang diomongin sama dia sebenarnya biasa aja, selalu singkat.

“Pinjem cas-an dong”

“Eh, lu kenapa?”

“Besok jalan yuk”

Tapi gua tahu sebenarnya dia mau ngomong lebih panjang, tapi gak enak gara gara ada gua disana, dan juga si cewek ini menanggapinya dengan judes.

Gua yang nyadar hendak bangkit dari kursi, namun ditahan sama si cewek ini. Dia gak mau berhadapan sama cowok cheesy ini sendiri kayaknya. Yaudahlah.

Kasus lain yang sering banget terjadi adalah temen yang duduk di belakang sering tiba-tiba nangis, gak jejeritan tapi tentu sudah ritual jika ada yang nangis langsung dikerubunin.

Gua yang duduk didepannya pun terdorong dorong oleh temen-temen deketnya yang datang gerombolan dan mulai meng-introgasi si orang yang menangis. Dan alasannya menangis tidak lain karena cowoknya, cowoknya brengsek lah, mereka break lah, dan masalah pacaran lainnya.

Mereka hendak bicara namun tertahan. Gua bingung lantas liat ke belakang dan semua mata melekat kearah gua.

Mengerti. Gua bangkit dan cari tempat lain untuk duduk.

Yang paling menyiksa adalah pembicaraan hari rabu kemarin. Ketika kami -kelompok bahasa inggris- pergi ke rumah salah satu anggota untuk melakukan shot drama. Dan ketika ada waktu luang, semua cewek di grup itu pun mulai berbicara.

Curcol tentang masing masing hubungan mereka. Terkadang mereka saling bertatapan, ragu untuk bercerita karena ada gua dan satu orang lain yang juga belum pacaran disana.

Tidak seperti biasanya, yang bisa langsung pergi memberikan mereka privasi tentang hubungan mereka. Kali ini gua gabisa kemana-mana, kami hanya di perbolehkan untuk duduk di teras jadi gak bisa kemana-mana. Keluar rumah pun bukan solusi yang tepat, teriknya matahari siang yang dapat membakar kulit adalah salah satu alasannya. Alasan lain? Malas.

Cerita ini terus berlanjut sampai salah satu dari mereka bertiga -yang sedari tadi bercerita- pun memulai menceritakan kisahnya yang di tinggal tidur oleh si pacar.

“Pacar gua semalem kayaknya marah gara-gara gua bolot”

“Hahaha bolot kenapa? Emang gimana?”

Gua berusaha sebisa mungkin untuk tidak menguping, tapi apa daya, mereka duduk tepat disamping gua. Mau tidak mau gua pun ikut mendengarkan.

“Gatau gua padahal lagi cerita gitu trus tiba tiba dia bilang ‘enak tuh’ lah kan gua gangerti trus gua tanya aja ‘enak apanya?’ Dia cuman jawab ‘itu lohh’ tapi gua tetep gangerti, eh dia marah dia bilang gini ‘tau ah itu makanan cari aja di internet, udah ya gua mau tidur’ lah yaudah gua juga tidur deh”

Gua rada lupa apa yang dia ceritain tapi intinya itu, dan ‘itu enak’ yang dimaksud tentu bukan makanan. Si cowoknya ini jelas memancing akan hal pornografi. Kami yang mendengarkan langsung mengerti apa yang di maksud oleh pacarnya itu.

Kami tertawa kasihan. Tapi gua cuman diam, merasa awkward tiba tiba.

Si ceweknya ini memang rada bolot, tapi bolotnya ini yang mungkin menyelamatkan dia.

Dan dari situ mereka mulai bercerita tentang hal-hal -yang menurut gua sangat ambigu- yang telah mereka lakukan bersama pacarnya. Dan gua tau pasti, hal-hal itu pasti sudah lebih dari ciuman.

Ya Allah.

Pengen kabur rasanya, suasana canggungnya bikin gua sesek. Gua pun makin serius sama hp, memasang headset di kedua telinga dan mendengarkan musik yang cukup untuk menutupi omongan omongan ambigu mereka.

Dan si pemilik rumah datang bagai penyelamat, mengajak untuk melanjutkan shot drama.

Otomatis pembiacaraan pacar itu pun juga berhenti. Selesai.

Sebenarnya banyak omongan ambigu lainnya yang gua dengar satu semester ini, tapi yang paling canggung adalah pembicaraan rabu kemarin. Tidak ada tempat untuk menghindar, gua pun terpaksa mendengar.

Dan omongan-omongan itu pun gua jadikan pengingat, reminder bahwa bahayanya pacaran. Bahwa pacaran adalah akar dari kemaksiatan.

Ketika gua duduk di bangku SMP, gua belum mengerti dunia pacaran yang sesungguhnya. Pacaran anak-anak negeri, karena gua sekolah di swasta, islam pula.

Dan SMA ini gua macem dapat culture shock. Tapi seiring berjalannya waktu gua sudah biasa.

Biasa akan semua hal ambigu dan non-ambigu yang mereka bicarakan.

Biasa akan pacaran yang ‘beyond imagination

Wkwkwkwkwk