Review Film : Cafe. Waiting. Love (2014)

Cafe. Waiting. Love merupakan film yang diadaptasi dari novel kedua Giddens Ko dengan judul yang sama. Novel pertama, You Are The Apple of My Eye, juga diangkat ke layar lebar pada tahun 2011 dengan judul yang sama yang di bintangi oleh Ko Chen-tung sebagai Ko Ching-teng dan Michelle Chen sebagai Shen Chia-yi.

Kedua film diatas, Cafe. Waiting. Love dan You Are the Apple of My Eye, sama-sama mengambil genre film yang sama yaitu, Romance-Comedy. Tapi apakah Cafe. Waiting. Love. mampu mengimbangi You Are the Apple of My Eye yang meraih kesuksesan sebagai film Box Office dan mampu mengantar Ko Chin-tung menyabet penghargaan di film debutnya?

Sayangnya tidak,

dan menurut gua pribadi film ini memang sedikit ngebosenin, gua bahkan beberapa kali skip adegan-adegan yang gak penting. Dan gua masih bisa mengikuti cerita film walaupun dengan beberapa kali skip.

Film ini menceritakan tentang perempuan bernama Lee Si-ying yang jatuh cinta sama pria yang nolongin dia berdiri pas dia hampir ketabrak bus. Dia ngeliat cowok yang nolongin dia itu selalu dateng ke cafe dengan nama Cafe. Waiting Love., dan kebetulan cafe itu lagi nyari karyawan baru. Gak mau menyia-nyiakan kesempatan, Si-ying langsung sign.

capture

Barista cafe itu cewek tomboy rambut pendek, dia nanya-nanya Si-ying kayak interview tentang kopi gitu. Ia hampir ditolak kalo bukan sama owner cafenya yang denger Si-ying ngebelain A-tuo, legenda sekolahnya yang selalu pake bikini/swimsuit, pake sepatu roda, dan bawa-bawa kol kemana-mana, diketawain sama temen-temen yang dateng sama dia

capture

Gara-gara si barista tomboy ini, ngerebut cewenya A-tuo.

Akhirnya Si-ying kerja di cafe itu jadi pelayannya kali ya, dia selalu merhatiin cowok super ganteng yang nolongin dia waktu itu. Cowok ini selalu duduk di kursi yang sama, tapi tiap hari selalu bawa cewek beda-beda.

Selain merhatiin cowoknya, Si-ying juga suka merhatiin ownernya yang juga kerjanya nangis di kursi deket kaca. Galau mulu hidupnya. Dan A-tuo, Si-ying dan A-tuo jadi deket gara-gara A-tuo merasa berterima kasih udah di bantuin di cafe, dan A-tuo ngajak Si-ying buat nonton bareng.

Dan nantinya jadilah cinta segitiga antara Si-ying, A-tuo, dan cowok ganteng penolong.

Rasa komedi di film ini emang dapet, banyak adegan yang bener-bener lucu, tapi banyak juga adegan lucu yang menurut gua dibuat-buat. Dan plotnya juga gak masuk akal, kenapa? Nonton aja.

Film dengan durasi 119 menit gua rasa berlebihan banget, banyak adegan gak penting, dan seperti yang udah gua tulis diatas, mau skip beberapa kali juga masih ngerti jalan ceritanya gimana.

Makanya gua kecewa berat, ekspektasi gua udah tinggi banget mengingat film You Are the Apple of My Eye itu salah satu film terbaik yang pernah gua nonton. Dan walaupun berkali-kali udah nonton gua tetep nangis, dan gaada rasa pengen ngeskip sama sekali.

Mungkin gara-gara Giddens Ko-nya udah gak terlalu mengambil andil untuk film ini kali ya? Atau emang gua yang biased dan literally trash for high school or college romance story makanya gua suka banget sama You Are the Apple of My Eye ketimbang ini? Gak tau.

Untuk nilai gua kasih 6/10.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s